ISLAMOPHOBIA

Hari ini, undang-undang anti-Muslim telah memberikan carte blanche (kebebasan) untuk melakukan monsterisasi dan penganiayaan terhadap umat Islam di negeri bebas, Amerika.

Muslim China

Otoritas China memberlakukan Aturan “Tinggal di Rumah ” secara rutin pada keluarga Muslim Uigur di Wilayah Otonomi Xinjiang Uigur di China barat laut

Massa PA 212

Usai shalat Jum’at, belasan ribu massa Persaudaraan Alumni (PA) 212 longmarch dari Masjid Istiqlal menuju Bareskrim untuk menuntut empat hal

TEKNOLOGI

Seperti apa wajah teknologi bila Islam menjadi sumber inspirasi?

SUAP, BOLEHKAH?

Ustadz, ada ulama mengatakan menyuap untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi hak kita dibolehkan.

Sabtu, 03 November 2018

Ahli Pidana: Pembakaran ‘Bendera Tauhid’ Melanggar Hukum



Pembakaran tersebut, terangnya, merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 156a huruf a KUHP, yang berbunyi “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.”

Terkait dengan alasan yang disampaikan oleh petinggi GP Ansor bahwa pembakaran bendera berkalimat tauhid dilakukan untuk menghormati dan menjaga kalimat tauhid, menurut Abdul Chair tidak dapat diterima oleh akal sehat dan tidak memiliki alasan pemaaf maupun alasan pembenar menurut hukum.
“Faktanya, pembakaran tersebut dilakukan di depan umum dengan diiringi sorakan kegembiraan. Mereka telah mempertotonkan pembakaran tersebut dengan senang dan bangganya,” ujarnya dalam keterangan yang diterima hidayatullah.com di Jakarta, Kamis (25/10/2018).
Ia menilai, jika ingin menghormati dan menjaga kemuliaan dan kesucian kalimat tauhid, secara logika tentunya bukan dengan cara-cara seperti itu, melainkan diambil untuk kemudian ditempatkan pada tempat yang layak.

Abdur Chair juga mengungkapkan, tindakan pembakaran tersebut sangat terkait dengan aksi swepping sebelumnya oleh GP Ansor melalui Banser di berbagai daerah. Dimana dengan kata lain, berbagai aksi sweeping yang kemudian berujung pembakaran bendera berkalimat tauhid adalah satu kesatuan perbuatan.
Sehingga, menurutnya, GP Ansor telah menyalahi ketentuan Pasal 59 ayat (3) huruf d UU Ormas yang menyatakan Ormas dilarang melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Tidak dibenarkan GP Ansor melalui Banser melakukan tindakan sepihak berupa aksi sweeping, tidak ada alas hak untuk melakukan hal tersebut,” tandasnya.
Sebelumnya pihak GP Ansor maupun PBNU bersikeras bahwa bendera yang dibakar anggota Banser Garut pada peringatan Hari Santri Nasional 2018 tersebut adalah bendera HTI.
Kepolisian senada dengan PBNU dan GP Ansor bahwa bahwa bendera yang dibakar itu adalah bendera HTI.

Sementara itu, Ditreskrimum Polda Jawa Barat bersama tim gabungan Bareskrim Mabes Polri dan Polres Garut menggelar pra-penyelidikan terkait kasus pembakaran bendera berkalimat tauhid itu. Direktur Ditreskrimum Polda Jabar Kombes Pol Umar Surya Fana mengatakan, pihaknya belum menemukan unsur pidana pada pelaku kasus ini.
“Karena perbuatan tersebut spontan yang dilakukan oleh oknum Banser yang mendasari terhadap konsensus yang telah disepakati sebelumnya. Sampai hari ini kami belum menemukan adanya sikap batin yang lain selain menghilangkan bendera HTI itu,” ujar Umar di Mapolda Jabar, Rabu (24/10/2018) kutip Liputan6.com.

Dia menyebut aksi pembakaran bendera dilakukan secara spontan tanpa ada niat. “Tujuannya adalah agar tidak bisa digunakan lagi karena dia tahu HTI adalah ormas yang sudah dilarang pemerintah,” kata dia.
Polisi mengamankan dua pelaku pembakaran dan ketua pelaksana kegiatan apel usai insiden pembakaran bendera tersebut.
“Contoh kalau dia punya niat dia bawa bensin, korek dibakar kertas dan sebagainya. Tapi di video, dia bakarnya susah, nyari kertas seadanya, korek saja minta-minta. Itu menunjukkan spontanitas dan pemahaman yang cuma sekadar itu saja. Sekali lagi ini hasil yang sementara didapat,” beber Umar.* Yahya G Nasrullah
Hidayatullah.com
Share:

Selasa, 17 Juli 2018

DALAM AKSI 67, BELASAN RIBU MASSA PA 212 TUNTUT EMPAT HAL INI


 Usai shalat Jum’at, belasan ribu massa Persaudaraan Alumni (PA) 212 longmarch dari Masjid Istiqlal menuju Bareskrim untuk menuntut empat hal. Keempat tuntutan tersebut tertulis dalam pers rilis yang dibagikan panitia kepada wartawan di sela-sela aksi, Jum’at (6/7/2018) di depan Bareskrim Biro Renmin Mabes Polri, Gambir, Jakarta Pusat.
“Pertama, menuntut kasus penodaan agama oleh Victor Laiskodat, Ade Armando, Cornelis, dan Sukmawati untuk segera diproses, menetapkan terlapor sebagai tersangka dan menahan tersangka agar tidak mengganggu proses penyidikan sekaligus menolak tegas SP3 yang diterbitkan untuk Sukmawati,” tulis rilis berkop surat Dewan Pengurus Pusat Persaudaraan Alumni 212 tersebut.
Kedua, Mendagri harus bertanggung jawab terhadap kasus KTP elektronik di Bogor dan tempat lain, serta pengangkatan perwira aktif kepolisian menjadi Pjs Gubernur Jawa Barat yang jelas-jelas melanggar UU dengan cara ‘mengundurkan diri’ atau ‘dicopot’ oleh presiden dari jabatannya dan harus diseret ke pengadilan demi hukum.
“Ketiga, menuntut pencopotan Menristekdikti yang terkesan radikal, yang menebar terror dan ancaman di lingkungan warga civitas academica, sekaligus mengembalikan marwah ilmu dan dunia akademik, mengembalikan posisi dosen dan mahasiswa seperti sediakala,” tulis rilis yang ditandatangani Koordinator Lapangan Aksi Umat Menuntut Keadilan KH Fikri Bareno, Ketua Umum DPP PA 212 Ustadz Slamet Ma’arif dan  Sekum Bernard Abdul Jabbar.
Keempat, menuntut pembebasan Ustadz Alfian Tanjung dan aktivis Islam lainnya, sekaligus mendukung penuh pemerintah untuk segera mengambil aksi tanggap darurat untuk memerangi teroris OPM di Papua.
Dalam aksinya, PA 212 pun mengutus sejumlah delegasi untuk menyerahkan rilis yang secara resmi berjudul Resolusi 67 Pernyataan Sikap Persaudaraan Alumni (PA)  212 tentang Tegakkan Hukum dan Keadilan karena Negara dalam Keadaan Darurat Hukum  tersebut kepada Bareskrim dan Kemendagri guna ditindaklanjuti.[] Joko Prasetyo MU2018
Share:

PERANCIS AKUI ADOPSI KEBIJAKAN ANTI-ISLAM


Presiden Perancis Emmanuel Macron, pada 9/7/2018, di depan anggota parlemen yang berkumpul di istana Versailles di barat Paris mengumumkan bahwa “tidak ada alasan apapun untuk menjadikan hubungan antara Republik dan Islam itu sulit”. Dia mengakui permusuhan yang diperlihatkan rakyat Perancis terhadap Islam dan kaum Muslim, dengan mengatakan: “Ada wacana militansi dan permusuhan terhadap Islam, yang ditujukan untuk mempertanyakan undang-undang kita sebagai negara dan masyarakat bebas, di mana prinsip keduanya tidak tunduk pada instruksi-instruksi yang berbau agama.”
Oleh karena itu, masalahnya bukan pada Islam, namun ada di Perancis dan kebebasannya, yang tidak mentoleransi keberadaan Islam, penyebarannya dan keadilannya, serta kesucian dan kemurnian yang diserukan oleh Islam. Masalahnya juga ada di semua negara Barat yang mengambil kebijakan anti-Islam dan membatasi ruang kaum Muslim. Mereka melarang hijab (pakaian syar’iy) di sekolah-sekolah, melarang cadar (niqāb) di kehidupan publik, mereka melarang perempuan mengenakan pakaian tertentu untuk berenang yang menutupi tubuh mereka, dan seterusnya. Semua ini mejadi tanda tanya terkait kebebasan dan undang-undangnya yang selalu dinyanyikan Perancis. Sebab kebebasan menurut Perancis adalah porno aksi, kemesuman dan kecabulan. Sehingga siapa saja yang mengingikan kehormatan dan kesucian serta hijab, maka tidak ada tempat baginya di Perancis, yakni dalam permusuhannya dengan Islam, Perancis bertindak sebagai negara Kristen fanatik, bahkan sebagai negara Salibis di antara sisa-sisa zaman pertengahan Eropa.
Macron menegaskan: “Mulai musim gugur, kami akan memperjelas situasi ini dengan memberi Islam sebuah kerangka dan aturan yang akan memastikan bahwa itu bisa dipraktekkan di seluruh negeri sesuai dengan undang-undang Republik Perancis. Kami akan melakukan itu bersama kaum Muslim Perancis dan para perwakilannya.”
Semua tahu bahwa negara Perancis sejak era Chirac hingga Sarkozy adalah negara yang mengadopsi kebijakan anti-Islam sesuai dengan undang-undang Republik, serta membatasi ruang kaum Muslim dan terus mematainya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan yang ditempuh oleh Perancis sesuai dengan undang-undang Republik adalah gagal bahkan itu batal demi hukum, sehingga menciptakan reaksi di kalangan kaum Muslim, di mana mereka lebih berpegang teguh terhadap Islam, dan mereka mulai menentang kebijakan ini tanpa rasa takut, dan kepercayaan mereka pada Perancis dan undang-undangnya telah rontok, palagi mereka menolak sekulerisme Perancis dan demokrasinya. Inilah yang menempatkan para pemikir dan politisi mereka dalam kesulitan, sehingga Presiden mereka, Macron mulai mencari solusi lain yang akan memperlunak suasana permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslim.
Untuk itu, para anggota parlemen bertepuk tangan ketika Macron berkata dalam testimoninya: “Ketertiban publik, rasa kesopanan publik, kemandirian pikiran dan individu tentang agama bukanlah kata-kata kosong di Perancis, dan ini membutuhkan kerangka baru dan penataan ulang.” Akan tetapi Islam lebih kuat dari Perancis dan akan mengalahkannya. Sehingga tidak peduli bagaimana mereka berusaha untuk memalingkan kaum Muslim dari Islam, dan berusaha untuk menipu mereka dengan hukum-hukum palsu buatan manusia. Ingat! Bahwa mereka kaum Muslim akan tetap berpegang teguh pada agama mereka yang hanīf (lurus).
MU2108
Share:

Selasa, 05 Juni 2018

Faktor Pemicu Kemajuan Sains dan Teknologi Peradaban Islam


Salah satu unsur kejayaan peradaban Islam adalah sains dan teknologi. Bidang ini mengalami beberapa fase, mulai dari kemunculannya, penyebaran, kemajuan, hingga kemunduran. Untuk menunjukkan kemajuan sains dan teknologi Islam pada masa keemasannya, cukuplah kiranya menyebut nama-nama, seperti Jabir bin Hayyan, al-Kindi, al-Khawarizmi, ar-Razi, al-Farabi, at-Tabari, al-Biruni, Ibnu Sina, dan Umar Khayyam. Tak seorang pun, baik di Timur ataupun di Barat, yang meragukan kualitas keilmuan mereka.
Lantas, apa faktor-faktor yang menunjang kemajuan sains dan teknologi Islam pada masa lalu itu? Dalam pendahuluan buku Teknologi dalam Sejarah Islam, Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R Hill mengutarakan tujuh faktor kemajuan sains dan teknologi Islam. Ketujuh faktor itu adalah agama Islam, pemerintah yang berpihak pada ilmu pengetahuan, bahasa Arab, pendidikan, penghormatan kepada ilmuwan, maraknya penelitian, dan perdagangan internasional.
Pertama adalah agama Islam. Menurut Al-Hassan dan Hill, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini memberikan dorongan yang sangat kuat kepada umatnya untuk melakukan pencapaian-pencapaian di bidang sains dan teknologi.
Alquran memerintahkan umat Islam agar menggunakan akalnya dalam mengamati hakikat alam semesta. Perintah semacam itu di antaranya termaktub dalam surah Arrum [30] ayat 22; Albaqarah [2] ayat 164; Ali Imran [3] ayat 190-191; Yunus [10] ayat 5; dan al-An'am [6] ayat 97. Firman Allah SWT juga sering disertai pertanyaan afala ta'qilun dan afala tatafakkarun (tidakkah kamu sekalian berpikir).
Di samping itu, Islam telah menyatukan seluruh umatnya yang menyebar dari Cina hingga Samudra Atlantik di bawah pengaruh satu bahasa dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, semua orang bebas mengembara ke berbagai kota pusat ilmu pengetahuan, seperti Baghdad, Kairo, Cordoba, dan lain-lain, untuk belajar.
Kedua, pemerintah yang berpihak pada ilmu pengetahuan. Howard R Turner dalam Sains Islam yang Mengagumkan mengatakan bahwa pencapaian di bidang sains dan teknologi sudah menjadi ciri-ciri umum semua dinasti Islam, baik itu dinasti kecil maupun besar. Hampir di setiap kota Islam, ketika itu, terdapat gerakan Arabisasi dan penerjemahan. Di samping itu, juga didirikan akademi-akademi, observatorium, dan perpustakaan.
Ketiga, bahasa Arab. Sejak awal pemerintahan Dinasti Umayyah, ilmu pengetahuan dari Yunani dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Menurut Al-Hassan dan Hill, para sultan ketika itu sepenuhnya menyadari bahwa tidak mungkin ilmu pengetahuan berkembang di dunia Islam jika ilmu-ilmu tersebut tertulis dalam bahasa non-Arab.
Melalui aktivitas terjemahan itu, ilmu pengetahuan menyebar tidak hanya di kalangan penguasa dan intelektual, tetapi juga di masyarakat awam. Melalui penerjemahan itu pula, muncul banyak istilah sains dan teknologi yang baru dari bahasa Arab. Bahkan, bahasa ini dapat dipakai untuk mengekspresikan istilah-istilah ilmu pengetahuan yang paling rumit sekalipun.
Keempat, pendidikan. Untuk memacu laju perkembangan ilmu pengetahuan itu, para khalifah mendirikan sekolah-sekolah, lembaga pendidikan tinggi, observatorium, dan perpustakaan. Perpustakaan yang sangat terkenal pada masa Dinasti Abbasiyah bernama Bayt Al-Hikmah (Rumah Kearifan).
Perpustakaan ini, seperti dicatat banyak sejarawan Islam, memberikan sumbangan yang penting dalam penerjemahan karya-karya ilmuwan dari Yunani dan India ke dalam bahasa Arab. Salah seorang penerjemah buku-buku matematika dari Yunani adalah Tsabit bin Qurrah (836-901).
Kelima, penghormatan kepada ilmuwan. Al-Hassan dan Hill mencatat bahwa para ilmuwan pada era keemasan Islam mendapatkan perhatian yang besar dari kerajaan. Para ilmuwan masa itu dipenuhi kebutuhan finansialnya, bahkan diberi uang pensiun. Kebijakan ini diambil supaya mereka bisa mencurahkan waktu sepenuhnya untuk kegiatan mengajar, membimbing murid, menulis, dan meneliti.
Keenam, maraknya penelitian. Kerajaan mendorong para ilmuwan untuk melakukan penelitian di berbagai bidang. Salah satu contohnya adalah riset ilmu matematika oleh al-Khawarizmi. Sang ilmuwan telah menghasilkan konsep-konsep matematika yang begitu populer dan masih tetap digunakan hingga sekarang. Angka nol yang ada saat ini kita kenal merupakan hasil penemuannya. Angka ini dibawa ke Eropa oleh Leonardo Fibonanci dalam karyanya Liber Abaci.
Ketujuh, perdagangan internasional. Perdagangan internasional menjadi sarana komunikasi yang efektif antarperadaban dan mempercepat proses kemajuan teknologi. Misalnya, karena maraknya kegiatan dagang antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain di dunia, ditemukanlah teknologi navigasi.
Demikian gambaran sekilas perkembangan sains dan teknologi Islam. Al-Hassan dan Hill menggarisbawahi bahwa kemajuan sains dan teknologi umat Islam pada masa itu ditentukan oleh stabilitas politik dan ekonomi.
Tak mengherankan bila dengan ketujuh faktor itu, dunia Islam menjadi magnet bagi Barat untuk menggali berbagai ilmu pengetahuan dalam Islam. Mulai dari pertanian, perkebunan, kedokteran, perbintangan, kesehatan, kedokteran, matematika, fisika, dan lain sebagainya.
Sayangnya, kemajuan ilmu pengetahuan Islam itu tak berlanjut hingga kini. Sebab, dunia Barat yang mulai menguasai ilmu pengetahuan Islam mengambil celah, bahkan mengancam kekhalifahan Islam yang mulai bermasalah karena persoalan internal.
Serangan bangsa Barbar dari Asia Tengah menjadi salah satu tanda kemerosotan sains dan teknologi Islam. Hal ini disebabkan lemahnya politik dan ekonomi umat Islam di Irak.

Share:

Kisah Muslimah Lolos Dari Maut



TRAGEDI KARAMNYA KM.MARINA BARU,  19 DESEMBER 2015

Mohon maaf jika tulisan saya mengganggu layar baca anda, Izinkan saya untuk berbagi.
Saya mengenalnya sedari dulu di SMA. Dia adalah adik perempuan dari teman laki-laki saya. Kedekatan kami semakin erat saat dia menjadi teman kerja di Tata Ruang,Dinas PU Kolaka.
Begitupun dua anak itu. Satunya kelas 1 SMA, yang kecil kelas 4 SD. Saya cukup baik mengenal keduanya.
Berita tentang karamnya kapal fiber glass KM. Marina Baru di Perairan Siwa yang berlayar dari Kolaka begitu cepatnya menyebar. Seharusnya kapal itu telah tiba di tujuan pukul 15.00 WITA. Tetapi Qadarullah, hampir semua teman saya di Sulawesi memposting berita yang sama.
Saya pun tak ketinggalan.Malam itu jelas sekali saya mempost sebuah tautan tentang kapal tersebut yang kemasukan air.
Setengah jam berlalu, tiba-tiba handphone suami saya berdering. Rekan kerja saya yang lain mengabarkan tentang Ulfah, demikian kami memanggilnya yang ikut menumpang di kapal itu bersama dua keponakannya. Mereka berencana akan ke Sengkang (Sulsel).
Di ujung telpon, saya tahu Leli (si penelepon) tengah terisak mengabarkan itu. Kaki saya sejujurnya gemetar. Kapal itu awalnya dikabarkan kemasukan air, mesinnya mati, hilang kontak, kemudian karam.
Bagaimana tidak gemetar, sepertinya belum lama berlalu kisah tragis Kapal Fery Windu Karsa yang berlayar menuju Kolaka, tenggelam di Perairan Bone.Korban jiwa sangatlah banyak. Kerabat kami pun ‘hilang’ di sana.
Pasca telepon itu, malam terasa sangat panjang. Mata kami tak bisa terpejam. Suami saya yang ikut gelisahpun, kulihat hanyut dalam doa di tahajud sepertiga malamnya.
Ulfah sudah seperti adik kami.
Malam itu kami menghubungi keluarga di Kolaka Utara, Siwa dan Sampano, tapi hasilnya nihil.
Siang tadi, di depan gerbang rumahnya.
“Leli, tidak tahu apa saya mo bilang pertama…. ??” (Lel, saya tak tahu mau berkata apa untuk membuka pembicaraan..)
Leli hanya tersenyum, dan kami pun masuk ke dalam rumah..
Saya selalu berprasangka baik pada Allah. Tapi sebagai manusia biasa, sungguh kehilangan kontak dengan Ulfah dan kabar tenggelamnya kapal sempat membuat pikiran saya ke mana-mana. Kalau-kalau….. jangan-jangan….
Memeluknya kembali siang ini seperti mimpi. Dia pun begitu. Bermalam di lautan baginya juga seperti mimpi, itu katanya siang tadi.
Mendengarkan dia berbagi pengalamannya, sembari sesekali ku lihat tangannya yang terluka karena tali tambang saat dievakuasi.
19 jam terapung di lautan, hanya berdua dengan keponakannya yang kecil itu. Keponakan satunya lagi, terpisah karena di seret arus dan ombak tinggi saat mereka bertiga lompat ke luar kapal yang airnya sudah setinggi dagu anak SD itu.
Setiap kali Ikram (si kecil), berkata lapar dan haus setelah terombang-ambing di lautan, dia akan berkata:
“Telan saja air liurnya nak, berniatlah..semoga itu bisa membuatmu kenyang dan tidak haus lagi…”
“Tapi tante, kalo nanti kita selamat..saya akan makan banyak. 4 waktu makan sudah kita lewati..”
Ikram sangatlah kooperatif selama kami dalam keadaan itu, demikian kata Ulfah.
Anak itu selalu mendengar apa yang disampaikan, termasuk instruksi menutup hidung agar air laut tak masuk ke dalam hidung, setiap kali ombak akan datang menerjang mereka.
Ikram tak akan terlalu jauh terseret arus.Dia akan tetap berupaya menarik keponakannya, jika ikatan tangan mereka terlepas. Satu lagi, kaki anak itu dilingkarkan di pinggang tantenya. Jika tangan terlepas, masih ada kaki yang terkait. Cerdas. Pikiran perempuan ini masih berfungsi di tengah kondisi seperti itu. Terkadang kepanikan membuat kita mati akal.
Selama 19 jam itu, tak terhitung berapa kali kaki mereka digigit ikan-ikan kecil.
Saya tak bisa membayangkan di posisi mereka, 12 jam bersahabat dengan air dan hanya melihat laut tak berujung, bulan dan bintang, 7 jam hanya bersahabat dengan matahari dan air.
Saat tengah malam hujan turun lebat, bukan main girangnya mereka karena bisa minum air hujan.
Perjuangan yang luar biasa. Doa dan terus berprasangka baik pada Allah, itu kunci mereka bertahan.
“Jika takdir hidupku sampai di sini saja, aku meminta padaMU ya Allah…biarkan mereka menemukanku sementara aku masih berpakaian lengkap dengan hijabku…”
itu doa yang diucapkannya di tengah lautan.
Saya tertampar.
Saya terhenyak.
Hatta, jam 10 pagi mereka melihat kapal dari kejauhan.Kapal itu adalah kapal yang memang diperuntukkan untuk mencari korban tenggelamnya kapal.
Anak kecil itu terlihat gembira, berseru Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar...kami di sini… kami di sini…, sambil melambaikan tangan.
“Saya masih sholat di laut, kalau saya rasa sudah agak lama… saya sholat lagi, demikian anak SD itu bercerita (masuknya waktu sholat, berdasarkan perkiraannya saja..)
Lagi-lagi saya terdiam.
Mengutuki diri,
Masih sehat, dalam kondisi baik, kehidupan enak di dunia, masih juga selalu menunda waktu..
Mungkin, ada juga di luar sana…yang masih enggan bersujud.Mungkin saja…
Satu lagi pelajaran yang saya peroleh siang ini. Tentang ketabahan seorang ibu. Ibu dari anak kecil itu. Tak pernah sedikit waktu pun saya melihatnya menangisi takdirnya. Meski anak sulungnya belum juga ditemukan hingga saat saya menuliskan ini.
Masih dengan mata tabah yang sama, yang kudapati beberapa bulan lalu..saat anak keduanya meninggal karena sakit.
“Kuat sekali ki’… (kamu sangat kuat)”
Hanya itu yang bisa saya ucapkan padanya siang tadi, sambil menepuk bahunya.
“Mauka’ apa….(saya bisa apa..)
Jawabannya singkat. Tapi artinya sangatlah panjang..
“Kita bisa apa…, toh ini skenario Allah.
“Kita bisa apa…, kita hanya manusia.
“Kita bisa apa…, Allah-lah yang punya ketetapan..
“Kita bisa apa…, anak-anak hanyalah titipan.
“Kita bisa apa…, rencana Allah jauh lebih indah
“Kita bisa apa…, sekeras apapun berjuang, jika Allah menakdirkan ini dan itu, akan seperti itulah…
Penafsiran panjang dan tak berujung, untuk sebuah kalimat…”Saya bisa apa”
Satu yang saya tahu, semakin tinggi imanmu..semakin tinggi ujianmu.
Semoga anak Reza Abdillah dan seluruh penumpang bisa segera ditemukan dalam keadaan sehat.
Terimakasih Ulfah, Ikram dan Kak Ria untuk hikmah hidup hari ini..
*Faridawati Latif

Share:

cak nun

Cari Blog Ini

Postingan Populer

ikuti Fans Page Islamedia